10 Aturan Saat Menyelam Rekreasi

10 Aturan Saat Menyelam Rekreasi - Menyelam rekreasi saat ini masih menjadi olahraga mulai kembali marak (ngetrend). Diciptakan atau dibakukan menjadi sebuah kegiatan olahraga resmi sekira 1950-an. Namun booming secara signifikan pada medio 1960-an dan 1970-an.

Dan puncak-puncaknya, pada 1980-an menyelam rekreasi atau populer dengan sebutan scuba diving ini mulai mewabah. Dan didukung dengan infrastruktur serta adanya teknologi moderen dan industri -mulai 1990  menjadi semakin pesat perkembangannya.
10 Aturan Saat Menyelam Rekreasi
Sebab itulah usia olahraga ini perlu pembaruan termasuk pengetahuan yang harus gali pelajarannya. Dari hasil penelitian terkini serta peralatan selam terbaru, menggeser olahraga menyelam ini menjadi lebih aman dan menyenangkan.

10 Aturan Saat Menyelam Rekreasi

[1] Profil Menyelam Terbalik Kini Diperkenankan

Aturan Baru. Hal ini diperkenankan untuk menyelam lebih dalam pada penyelaman kedua. Dan agar bisa menyelam lebih dalam pada penyelaman terakhir dibandingkan penyelaman sebelumnya.

Aturan Lama. Jamak dari penyelam diajarkan untuk menyelam pada kedalaman yang telah direncanakan. Awal penyelaman lebih dalam dan kemudian secara bertahap bergerak ke atas (bila digambarkan lebih mirip seperti tangga dengan teratur).

Penyelam pun wajib membuat kedalaman terdalam pada hari pertama penyelaman. Pasalnya, kedalaman yang lebih dangkal akan membantu mencegah terjadinya DCS atau Decompression Sickness dari kedalaman lebih besar sebelumnya.

Alasan Perubahan. Karena Dive Computer mampu melacak kedalaman dengan waktu secara berkesinambungan serta sangat akurat dalam menghitung besar kemungkinan paparan nitrogen secara akurat dalam berbagai profil penyelaman.

Tabel. Sebaliknya, tabel hanya mampu menjelaskan kedalaman terbesar saja. Ini pun  menjadi perkiraan kasar dari paparan nitrogen sehingga masih harus melakukan pendekatan secara konservatif.

10 Aturan Saat Menyelam Rekreasi

Pengecualian, Setiap penyelam yang hanya menggunakan tabel disarankan untuk tetap mengikuti aturan lama, walaupun menggunakan komputer selam. Pada beberapa penyelaman, -sebaiknya- menyelam dengan lebih dalam terlebih dahulu. Profil ascending akan memberi lebih banyak bottom time dan batas aman yang lebih besar terhadap DCS.

[2] Batas Usia Terendah

Aturan Baru. The Recreational Scuba Training Council (yang sering menetapkan berbagai standar dalam industri penyelaman) telah menurunkan persyaratan usia minimum untuk sertifikasi junior pada akhir 1999.

Sehingga PADI, SDI, SSI dan NASDS turut menurunkan persyaratan usia minimum untuk sertifikasi junior, yaitu; pada usia 10 tahun. SSI memiliki salah satu program pada confined water, Scuba Ranger untuk usia 8 hingga 12 tahun. Sedangkan NAUI dan YMCA - hingga saat ini-masih mempertahankan minimum pada usia 12 tahun.

Aturan Lama. Usia minimum untuk sertifikasi junior adalah 12 tahun dan membutuhkan pengawasan sepenuhnya oleh penyelam dewasa bersertifikat.

Alasan Perubahan. Untuk bisa mempromosikan olahraga menyelam, saat ini jamak penyelam yang berasal dari kalangan jetset yang menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah menyelam. Termasuk semakin populernya resort-resort menyelam. Ini menjadi captive market - saat liburan keluarga menyelam akan semakin terbuka.

"Masa depan menyelam akan ditentukan oleh anak-anak," tegas Bret Gilliam, Presiden SDI organisasi pertama yang menurunkan batas usia.

"Dan ini adalah perkembangan yang signifikan untuk mengetahui bahwa sebuah keluarga sebagai kunci pertumbuhan olahraga menyelam" tambahnya.

10 Aturan Saat Menyelam Rekreasi

Pengecualian. Semuanya kembali kepada diri sang pelatih menyelam dalam memutuskan, apakah seorang anak cukup mampu untuk menyelam. Tidak lantas, hanya karena menginja usia10 tahun serta merta langsung diijinkan untuk melakukan penyelaman dan mendapat sertifikasi.

Ketahuilah bahwa sertifikasi baru untuk Penyelam Junior memiliki berbagai macam aturan dan pembatasan. PADI misalnya, mereka membatasi anak-anak hingga kedalaman maksimal 6 meter dalam air saat confined water, kemudian hanya 12 meter pada saat sesi open water.

Dan penyelam Junior harus tetap didampingi oleh Dive Instructor dari organisasi penyelaman, orang tua dan atau penyelam dewasa bersertifikat.

[3] Aturan-aturan Umum Yang Berlaku

Aturan Baru. Sertifikasi selam sejak 1998 dapat mengambil sesi kelas dan kolam renang di kota tertentu dari instruktur dari klub A. Kemudian pergi untuk sesi open water di bawah instruktur dari klub B itu diperbolehkan dengan syarat kedua organisasi tersebut memiliki perjanjian sesuai dengan standar dan instrukturnya masing-masing. Ini berarti penyelam memiliki banyak pilihan untuk menentukan tempat sesi open water sesuai dengan kemampuan.

Aturan Lama. Sesi kelas, sesi kolam renang dan sesi open water semua harus dengan lembaga pelatihan yang sama. Jika penyelam berniat untu melakukan sesi open water pada daerah tertentu, maka ia juga harus memilih tempat atau resort dengan instruktur berafiliasi dengan organisasi yang sama pula.

Alasan Perubahan. Ada keleluasaan tentang lembaga pelatihan yang lebih kecil dengan beberapa instruktur pada tempat tertentu atau resort untuk join agar dapat memberikan pilihan yang lebih baik dan fleksibel - apalagi dalam kedua lembaga tersebut terdapat standar sertifikasi yang hampir sama.

Pengecualian. Menurut PADI, saat ini peraturan tersebut di atas 70% merupakan isu dari semua proses sertifikasi, namun PADI masih tetap mensyaratkan bahwa semua tahapan pelatihan harus dengan instruktur PADI.

[4] Slower Ascent Rate

Aturan Baru. Kecepatan naik kepermukaan tidak boleh lebih dari 10 m/menit atau 1 m setiap enam detik.

Aturan Lama. Selama ini kecepatan untuk naik adalah 20 m/menit hingga US Navy mengadopsi 10 m/menit (aturan1996) kemudian banyak diikuti oleh organisasi dan lembaga pelatihan.

Alasan Perubahan. Dari hasil penelitian sudah ditemukan bahwa saat penyelam naik kepermukaan dengan kecepatan 10 m/menit menghasilkan lebih sedikit kasus DCS dibandingkan dengan peraturan lama yang 20 m/menit. Naik ke permukaan dengan lebih lambat, dapat menghentikan terjadinya dekompresi, sehingga tubuh memiliki kesempatan lebih baik untuk bernafas dan membuang kandungan nitrogen yang terlarut sebelum gelembung tersebut terbentuk.

Pengecualian. Naik dengan kecepatan 10 m/menit dinilai tidak selalu dapat diterapkan, terutama ketika sedang berada pada kedalaman yang cukup dalam dan persediaan udara juga menipis atau mendekati hipotermia. Untuk kondisi seperti ini naik kepermukaan lebih cepat dengan 20 m/menit masih dapat diterima, namun ketika di kedalaman 20 m, tetap harus memperlambat kecepatan untuk naik hingga 10 m/menit.

[5] Safety Stop

Aturan Baru. Penyelam wajib berhenti pada kedalaman 5 m selama minimal 3 hingga 5 menit sebelum naik ke permukaan pada setiap akhir dari penyelaman. Beberapa ahli penyelaman sangat menyarankan Safety Stop berhenti untuk 10 sampai 15 menit dalam kondisi penyelaman tertentu.

Peraturan baru menetapkan Safety Stop pada kedalaman 5 m untuk setidaknya 3 sampai 5 menit sebelum naik ke permukaan dan juga untuk penyelaman yang lebih dalam dan lebih berat. Safety Stop memberikan waktu bagi tubuh si penyelam untuk menghilangkan kandungan nitrogen.

Aturan Lama. Tidak ada sama sekali, Safety Stop tidak diajarkan sebelum pertengahan tahun 1980-an.

Alasan Perubahan. Dari hasil penelitian yang dilakukan, peraturan baru menganggap bahwa semua penyelaman adalah penyelaman dekompresi dan DCS bisa saja dan atau tidak terjadi bahkan ketika penyelam sudah berada pada zona yang disebut "batas tanpa dekompresi".

Penelitian dengan jelas membuktikan bahwa Safety Stop pada 5 m memungkinkan bagi penyelam untuk membuang gas nitrogen sebelum naik kepermukaan melalui zona perubahan tekanan terbesar, di dekat permukaan. Nitrogen yang belum terbuang dapat menjadi gelembung pada jaringan tissues ketika hendak naik ke permukaan dan menyebabkan DCS.

Terdapat beberapa alasan lainnya untuk melakukan Safety Stop. Udara dan gelembung udara pada BCD dan wetsuit juga mengembang dengan cepat saat 5 m terakhir. Dan tanpa disadari hal ini mampu menyebabkan nilai apung atau buoyancy penyelam menjadi positif secara signifikan. Safety Stop juga memberikan kesempatan bagi si penyelam untuk menyesuaikan nilai apung sehingga tidak kehilangan kontrol saat naik kepermukaan. Selain itu, Safety Stop juga memungkinkan si penyelam untuk survei kondisi permukaan, mengetahui posisi boat, kondisi traffic dan melepas “sosis-bouy” sebelum naik ke permukaan.

Pengecualian. Penyelam tidak perlu tepat pada kedalaman 5 m, apalagi ketika akan menganggu kelompok penyelam lainnya. Pada kedalaman antara 4 m hingga 7 m merupakan kedalaman yang baik. Dan waktu minimum yang baik adalah 3 sampai 5 menit. Serta diperlukan waktu yang lebih lama untuk Safety Stop.

[6] Neutrally Buoyant Ascents

Aturan Baru. Menjadikan daya apung netral sebelum mulai naik ke permukaan dan tetap menjaga kondisinya. Aturan baru ini beralasan, karena daya apung netral akan menghilangkan risiko run-away ascent dan pengaruh terhadap daya apung negatif lainnya.

Aturan Lama. Buang seluruh udara sehingga penyelam menjadi negatif sebelum mulai naik ke permukaan dan posisi fin - sirip - ke atas guna melawan daya apung negatif.

Alasan Perubahan. Peraturan lama dirancang untuk mencegah run-away ascent, tapi dari hasil studi US Navy mengungkapkan bahwa pengaruh terhadap daya apung negatif lain saat naik ke permukaan terkadang menyebabkan penyelam menahan nafas.

Selain dapat menyebabkan udara yang masih terperangkap di paru-paru, hal tsb dapat menyebabkan risiko terjadinya emboli. Perubahan ini menunjukan terhadap perkembangan teknologi dari BCD moderen, terutama pada katup pembuangannya.

Pengecualian. Di saat naik ke permukaan dari kedalaman yang sangat dangkal - sekitar 10 m atau kurang - tidak masalah untuk menggunakan fin untuk sedikit mengurangi daya apung negatif. Risiko kehilangan kontrol karena perubahan yang cepat dari daya apung pada BCD dan wetsuit, serta tekanan pada daya apung negatif lainnya juga dapat dihindari dengan lebih baik.

[7] Tidak Ada Lagi Buddy Breathing

Aturan Baru. Dalam keadaan darurat - ketika udara habis - tergantung pada kelebihan dari sistem regulator atau octopus dari buddy si penyelam, atau ketika naik kepermukaan karena keadaan darurat. Jangan pernah mencoba untuk "buddy-breathe" dari regulator tunggal kecuali penyelam dan buddy telah berlatih dengan baik.

Aturan Lama. Sebelum perkembangan teknologi terhadap octopus, alternate source air dan perlengkapan lainnya seperti "Spare Air" menjadi seperti saat ini, para penyelam diajarkan buddy-breathe hanya dari satu regulator saja sambil naik ke permukaan dengan lambat.

Alasan Perubahan. Faktor keselamatan, berdasarkan pengalaman yang membuktikan kecuali keduanya; buddy dan penyelam telah berlatih buddy-breathe dengan terampil. Cara tersebut cenderung membahayakan bagi kedua penyelam.

Jamak yang melakukan ketika buddy-breathe, penyelam menjadi terlalu fokus untuk bernafas melalui regulator dan lupa untuk mengendalikan daya apung, akibat dari naik kepermukaan terlalu cepat, emboli bisa saja terjadi. Juga ketika buddy yang bersama si penyelam memberikan regulator harus menahan nafas, bukannya menghembuskan napas dengan perlahan, juga memiliki risiko terkena emboli.
Bagi penyelam yang benar-benar kehabisan udara dan ketika ia maupun buddy tidak memiliki sistem cadangan udara lainnya, cara terbaik yang harus dilakukan adalah melakukan emergency swimming-ascent; yaitu berenang ke permukaan sambil menjaga tenggorokan si penyelam tetap terbuka sambil dengan perlahan-lahan menghembuskan napas.

[8] Buddy System

Seluruh organisasi dengan tegas menyatakan setiap penyelaman harus memiliki Buddy, namun menyelam sendirian saat ini sudah mulai menjadi umum bagi kalangan penyelam profesional, khususnya film-maker dan fotografer bawah air.

Catatan dan statistik kecelakaan masih kurang lengkap saat ini, dan belum dapat menunjukkan bahwa menyelam sendirian lebih berbahaya daripada dengan buddy, dan ada beberapa penyelaman profesional berpendapat bahwa menyelam sendirian sebenarnya jauh lebih aman.

[9] Snorkel

Sebagian besar penyelam diajarkan sebuah prinsip bahwa snorkel merupakan perlengkapan wajib setiap menyelam, seperti hlanya sepasang fin. Namun lambat laun jamak penyelam yang meninggalkan snorkel-nya dalam gear-bag mereka. Kenapa?

Pasalnya, penyelam-penyelam profesional memiliki simpulan bahwa snorkel - ketika dipasang pada masker - lebih sering menimbulkan bahaya daripada membantu. Panjangnya snorkel yang tergantung dari titik tengahnya yang senantiasa bergoyang dan kerap mengait tali pancing atau tali kamera.

Yang perlu diingat, saat memakai masker - tidak disarankan untuk menggantung atau mengikat apapun pada mask-strap.

 Saat ini penyelam menyimpan snorkel-nya untuk keperluan yang lebih spesifik semisal berenang untuk menuju titik penyelaman, sebagai rescue diver. Snorkel pun dibawa dengan cara dimasukkan ke dalam saku atau diikat ke tubuh.

[10] Dive Computer

Dive Comp saat ini menjadi sesuatu yang berguna apalagi berteknologi moderen mampu memberika keselamatan. Bahkan jauh lebih hebat daripada snorkel dan octopus.

Dive Comp saat ini sudah sering dianggap sebagai perlengkapan wajib. Hampir semua penyelam saat ini menggunakan dive computer untuk menyelam lebih aman dan nyaman. Untuk itu, hari ini manfaat dari dive computer menjadi materi belajar menyelam rekreasi (scuba dive) yang lebih awal untuk diajarkan.

Referensi: https://www.facebook.com/notes/muhammad-ector-prasetyo/sepuluh-aturan-baru-dalam-scuba-diving/534613689931471/
Diberdayakan oleh Blogger.